Kesehatan mental: Lima hal yang tak dibicarakan oleh laki-laki

Media sosial versus kenyataan
Pemakaian media sosial dapat berdampak luas terhadap kesehatan mental.

Kajian dari Universitas Pennsylvania menyimpulkan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan seseorang di media sosial, lebih besar kemungkinan orang itu merasa kesepian dan depresi. Tetapi pengaruhnya juga dapat sebaliknya.

“Mengurangi penggunaan media amberjapanesesteakhouse.com sosial akan mengurangi secara signifikan depresi dan kesepian,” kata psikolog yang menulis kajian itu Melissa Hunt. “Imbas ini jelas sekali terhadap orang-orang yang depresi dalam penelitian ini.”

Tetapi apa sebenarnya yang merugikan dari media sosial?

Mengapa lebih banyak laki-laki meninggal karena bunuh diri?
Apa saja bukti akibat media sosial kehidupan Anda
Bagaimana sinema memberi cap buruk pada penyakit kejiwaan
Bagaimana lebah menyelamatkan eks tentara AS dari depresi dan niat bunuh diri
Apa yang terlihat di media sosial bukanlah cerminan dari kehidupan sebenarnya, tapi kita tak dapat menjalankan hal lain selain membuat perbandingan, kata Oscar Ybarra, profesor piskologi di Universitas Michigan.

“Orang tak perlu terlalu sadar bahwa ini sedang terjadi, tapi memang demikianlah halnya. Kita melihat media sosial, kemudian berurusan dengan bobot yang benar-benar dipilih dengan baik. Lebih banyak kita menerapkannya, lebih banyak perbandingan sosial yang muncul darinya dan ini berkaitan dengan memburuknya perasaan kita secara umum.”

Kesepian
Dalam survei yang diselenggarakan oleh BBC’s Loneliness Experiment berprofesi sama dengan Wellcome Collection ditemukan bahwa orang muda berusia antara 16 sampai 24 tahun ialah kategori umur yang paling merasa kesepian.

Sebuah kajian Oxford tahun 2017 juga menemukan laki-laki lebih susah dalam mengusir rasa sepi.

“Hal yang menetapkan apakah seorang perempuan berhasil menyelesaikan kesepian ialah: apakah mereka berusaha untuk bicara terhadap teman mereka di telepon,” kata Robin Dunbar yang memimpin penelitian ini.

“Sementara pada laki-laki, mereka perlu menjalankan sesuatu bersama-sama seperti nonton bola, pergi minum bersama, bermain futsal dan sebagainya. Mereka sepatutnya menjalankan upaya ekstra. Perbedaan antar tipe kelamin ini semacam itu jauh.”

Ketika kesepian menjadi keadaan yang kronis, hal itu dapat berdampak besar baik terhadap kesehatan lahiriah maupun mental. Sebagian kajian menghubungkan antara kesepian dengan peningkatan risiko demensia, penyakit kronis dan perilaku yang berisiko tinggi terhadap kesehatan.

Bermacam-macam kajian menampilkan menangi bukan hanya punya akibat yang melegakan, tapi juga mempromosikan empati dan memperkuat ikatan sosial. Tetapi tetap saja istilah “laki-laki tak menangis” tetap tertanam di dalam masyarakat.

Menurut sebuah kajian di Inggris, 55 persen laki-laki berusia 18-24 merasa bahwa menangis itu membuat mereka terlihat tak maskulin.

“Kita membiasakan laki-laki sejak benar-benar muda untuk tak mengekspresikan emosional mereka karena hal itu dianggap ‘lemah'” kata Colman O’Driscoll, bekas direktur Lifeline, sebuah institusi Australia yang menyediakan bantuan terhadap krisis dan pencegahan bunuh diri.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.